Pattimura (1817) Belanda
melakukan monopoli perdagangan dan memaksa rakyat Maluku menjual hasil
rempah-rempah hanya kepada Belanda, menentukan harga rempah-rempah secara
semena-mena, melakukan pelayaran hongi, dan menebangi tanaman rempahrempah
milik rakyat. Rakyat Maluku berontak atas perlakuan Belanda. Dipimpin oleh
Thomas Matulessi yang nantinya terkenal dengan nama Kapten Pattimura, rakyat
Maluku melakukan pada tahun 1817. Pattimura seorang pejuang wanita Christina
Martha Tiahahu. Perang melawan Belanda meluas ke berbagai daerah di Maluku,
dibantu oleh Anthony Ribok, Philip Latumahina, Ulupaha, Paulus Tiahahu, dan
seperti Ambon, Seram, Hitu, dan lain-lain. Belanda mengirim pasukan
besarbesaran. Pasukan Pattimura terdesak dan bertahan di dalam benteng.
Akhirnya, Pattimura dan kawan-kawannya tertawan. Pada tanggal 16 Desember
1817,Pattimura dihukum gantung di depan Benteng Victoria di Ambon.Setelah itu
Pattimura melanjutkan peperangan di saparua Perlawanan pasukan Pattimura
pada tahun 1829 di Saparua merupakan kelanjutan Perang Pattimura 1817. Sebab
musabab yang mendasari Perang Pattimura juga menjadi alasan bagi pasukan
Pattimura untuk melakukan aksi. Semula mereka bersama Kapitan Pattimura telah
minum sumpah (angkat janji setia melalui tetesan darah yang diminum bersama)
untuk berjuang mengusir penjajah Belanda dari wilayahnya, di Bukit Saniri dalam
suatu musyawarah besar. Janji setia kepada Kapitan yang mereka kagumi dan
ketaatan pada tanah tumpah darah yang melahirkan mereka, memberikan pilihan
hidup atau mati untuk perjuangannya. Mereka menyaksikan pemimpin-pemimpinnya
mati digantung di depan benteng Victoria oleh penguasa untuk menakut-nakuti
rakyat, karena itu mereka akan lebih berhati-hati dalam mengatur strategi. Organisasi
pemerintahan negeri sesudah perang Pattimura tidak dapat menampung dan
menyalurkan aspirasi rakyat karena telah diawasi secara ketat melalui Stb.
1824. No. 19. a. tentang pemerintahan negeri. Satu-satunya wadah yang dapat
dijadikan sebagai kendaraan untuk menyatukan persepsi dan menyalurkan aspirasi
adalah organisasi tradisional masyarakat yang disebut Kewang. Kewang adalah
satu-satunya organisasi tradisional masyarakat yang lepas dari pengamatan
Hindia Belanda. Pemimpinnya disebut Latukewano
atau raja hutan, pengelola disebut Sina Kewano dan para anggota disebut Ana
Kewano atau anak Kewang. Para Kewang (pemuda negeri anggota Kewang) berhubungan
secara rahasia antar sesama mereka dari berbagai negeri untuk saling
menyampaikan dan melengkapi informasi. Untuk itu mereka sering mengadakan rapat
di hutanhutan. Hasil pertemuan dilaporkan kepada para serdadu Saparua yang
berada di Ambon. Para serdadu ini mempunyai sikap yang sama terhadap Pemerintah
Hindia Belanda, hanya saja mereka bernasib lebih baik karena tidak dicurigai.
Tatkala terdengar berita bahwa mereka akan dikirim ke luar daerah (Ambon) untuk
berperang di Jawa dan Sumatera mereka memutuskan bahwa itulah saat yang tepat
untuk menyerang Pemerintah Hindia Belanda. Mereka tidak mau meninggalkan tanah
tumpah darah mereka dan dipisahkan dari keluarga. Karena itu mereka intensifkan
komunikasi dengan para Kewang dan sisa-sisa pasukan Pattimura yang berada di
Saparua. Mereka menyurat dan menyampaikan berita ini kepada pasukan Pattimura
di Saparua yang dipimpin Izaak Pollatu, Marsma Sapulette dan Tourissa Tamaela.
Ketiga orang itu selain sebagai pemimpin kelompok yang telah siap melawan
Belanda juga adaiah kepala Kewang dari negeri-negeri Tuhaha, Ulath dan Porto di
pulau Saparua. Rapat-rapat makin diintensifkan antara lain di rumah Izaak
Pollatu, kemudian di Marsma apulette. Mereka membahas surat dari serdadu di
Ambon dan sebagian lagi siap untuk menyerang Belanda di Saparua. Salah satu surat
yang ditujukan untuk raja Saparua jatuh ke tangan residen. Akhirnya rahasia
perlawanan bocor dan Pemerintah Hindia Belanda mengambil langkah-langkah
pengamanan dan menggagalkan usaha para Kewang yang telah bertahun-tahun
mempersiapkan rencana itu. Perlawanan pasukan Pattimura di Saparua tahun 1829
yang bekerjasama dengan serdadu Saparua di Ambon itu pun gagal. Mereka
ditangkap dan diajukan ke pengadilan negeri di Ambon. Pergolakan rakyat di
daerah ini berakhir di sini.